baik baik sayank by wali band

Jumat, 01 Juni 2012

Jenis jenis tarian banjar


Kali ini saya mau memposting sebuah artikel yang berkaitan dengan budaya -  budaya yang ada di Indonesia khususnya budaya yang ada di Kalimantan Selatan yaitu tarian -  tarian yang ada di di Kalimantan Selatan. Langsung saja ea kita kita artikelnya,. Moga bermanfaat bagi kita semua ea.

 
 tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana

Jenis  Jenis Tari Banjar
Bagandut Jenis tari tradisional berpasangan yang di masa lampau merupakan tari yang menonjolkan erotisme penarinya mirip dengan tari tayub di Jawa dan ronggeng di Sumatera. Gandut artinya tledek (Jawa).
Tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan, baru pada kurang lebih tahun 1860-an tari ini berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh golongan rakyat biasa. Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara malam perkawinan, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.
Gandut merupakan profesi yang unik dalam masyarakat dan tidak sembarangan wanita mampu menjadi Gandut. Selain syarat harus cantik dan pandai menari, seorang Gandut juga wajib menguasai seni bela diri dan mantera-mantera tertentu. Ilmu tambahan ini sangat penting untuk melindungi dirinya sendiri dari tangan-tangan usil penonton yang tidak sedikit ingin memikatnya memakai ilmu hitam. Dahulu banyak Gandut yang diperistri oleh para bangsawan dan pejabat pemerintahan, disamping paras cantik mereka juga diyakini memiliki ilmu pemikat hati penonton yang dikehendakinya. Nyai Ratu Komalasari, permaisuri Sultan Adam adalah bekas seorang penari Gandut yang terkenal.
Pada masa kejayaannya, arena tari Gandut sering pula menjadi arena persaingan adu gengsi para lelaki yang ikut menari. Persaingan ini bisa dilihat melalui cara para lelaki tersebut mempertontonkan keahlian menari dan besarnya jumlah uang yang diserahkan kepada para Gandut.
Tari Gandut sebagai hiburan terus berkembang di wilayah pertanian di seluruh Kerajaan Banjar, dengan pusatnya di daerah Pandahan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin.
Tari Gandut sejak tahun 1960-an sudah tidak berkembang lagi. Faktor agama Islam merupakan penyebab utama hilangnya jenis kesenian ini ditambah lagi dengan gempuran jenis kesenian modern lainnya. Sekarang Gandut masih bisa dimainkan tetapi tidak lagi sebagai tarian aslinya hanya sebagai pengingat dalam pelestarian kesenian tradisional Banjar.
Baksa Dadap Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar yang disebutkan dalam Hikayat Banjar. Tarian ini masih dipertunjukkan di keraton Banjar menurut laporan orang-orang Belanda yang mengunjungi keraton Banjar terakhir. Dalam mempersembahkan tarian ini para penari memegang busur dan anak panah yang dipanggil dada. Mereka melompat dengan senjata ini, sambil mengankat sebelah kaki, bergerak dengan amat cepat, seolah-olah mereka terpaksa mempertahankan diri dari serangan yang datang dari semua sudut ah nda urus ko bohong ah
Baksa Hupak Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar yang disebutkan dalam Hikayat Banjar.
Baksa Kambang Merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalimantan Selatan, penarinya adalah wanita. Tari ini merupakan tari tunggal dan dapat dimainkan oleh beberapa penari wanita.
Tarian ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang sedang merangkai bunga. Sering dimainkan di lingkungan istana. Dalam perkembangannya tari ini beralih fungsi sebagai tari penyambutan tamu.
Tari Baksa Kembang termasuk jenis tari klasik, yang hidup dan berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar dengan penarinya galuh-galuh Banjar. Tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur keluarga keraton dan menyambut tamu agung seperti raja atau pangeran .
Setelah tarian ini memasyarakat di Tanah Banjar, berfungsi untuk menyambut tamu pejabat-pejabat negara dalam perayaan hari-hari besar daerah atau nasional. Disamping itu pula tarian Baksa Kembang dipertunjukkan pada perayaan pengantin Banjar atau hajatan misalnya tuan rumah mengadakan selamatan.
Tarian ini memakai hand propertis sepasang kembang Bogam yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Kembang bogan ini akan dihadiahkan kepada tamu pejabat dan isteri, setelah taraian ini selesai ditarikan.
Sebagai gambaran ringkas, tarian ini menggambarkan putri-putri remaja yang cantik sedang bermain-main di taman bunga. Mereka memetik beberapa bunga kemudian dirangkai menjadi kembang bogam kemudian kembang bogam ini mereka bawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai. Tari Baksa Kembang memakai Mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam ukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama halilipan.
Tari Baksa Kembang biasanya ditarikan oleh sejumlah hitungan ganjil misalnya satu orang, tiga orang, lima orang dan seterusnya. Dan tarian ini diiringi seperangkat tetabuhan atau gamelan dengan irama lagu yang sudah baku yaitu lagu Ayakan dan Janklong atau Kambang Muni.
Tarian Baksa Kembang ini di dalam masyarakat Banjar ada beberapa versi , ini terjadi setiap keturunan mempunya gaya tersendiri namun masih satu ciri khas sebagai tarian Baksa Kembang, seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang. Pada tahun 1990-an, Taman Budaya Kalimantan Selatan berinisiaf mengumpul pelatih-pelatih tari Baksa Kembang dari segala versi untuk menjadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku.
Setelah ada kesepakatan, maka diadakanlah workshoup Tari Baksa Kembanag dengan pesertanya perwakilan dari daerah Kabupaten dan Kota se Kalimantan Selatan. Walau pun masih ada yang menarikan Tari Baksa Kembang versi yang ada namun hanya berkisar pada keluarga atau lokal, tetapi dalam lomba, festival atau misi kesenian keluar dari Kalimantan Selatan harus menarikan tarian yang sudah dibakukan.
Baksa Kantar Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar yang disebutkan dalam Hikayat Banjar.
Baksa Kupu-Kupu Atarung Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar yang disebutkan dalam Hikayat Banjar.
Baksa Lilin Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan gerakan membawa lilin.
Baksa Panah Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan gerakan memanah yang disebutkan dalam Hikayat Banjar.
Baksa Tameng Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan menggunakan taming/tameng (perisai) yang disebutkan dalam Hikayat Banjar. Dalam tarian ini sebuah perisai kecil yang dinamakan taming, dan sebilah keris terhunus dipegang. Tarian ini dimulai dengan perlahan-lahan dan dengan penuh hormat dan kemudian sedikit demi sedikit menjadi lebih cepat dan lebih liar, seolah-olah menggambarkan suatu pertarungan.[2][3]
Baksa Tumbak Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar yang disebutkan dalam Hikayat Banjar.
Balatik Latik artinya tunas, balatik artinya bertunas. Tarian ini menggambarkan tumbuhnya tunas-tunas muda seniman tari Banjar.
Baleha Merupakan jenis tari berpasangan
Batarasulan Merupakan jenis tari berpasangan
Bogam adalah rangkaian bunga mawar dan melati. Tarian ini merupakan tari selamat datang dengan mempersembahkan kembang bogam kepada para tamu.
Dara Manginang Tarian ini menggambarkan anak dara yang sedang menginang.
Garah Rahwana Tarian yang menggambarkan sifat antagonis tokoh Rahwana dalam wayang Banjar.
Hantak Sisit Merupakan jenis tari berpasangan
Hanoman Tarian yang menggambarkan tokoh Hanoman pada cerita Ramayana dalam wayang Banjar.
Japin Batuah Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu, semua penari adalah wanita.
Japin Bujang Marindu Merupakan jenis tari berpasangan yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu. Tari mengambarkan kerinduan seorang kekasih setelah lama pergi merantau kemudian kembali ke kampung halaman.
Japin Dua Saudara Tarian yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan budaya Melayu.
Japin Hadrah Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam yang mengangkat kesenian Hadrah ke dalam gerak tari yang dinamis, semua penari adalah wanita.
Japin Kuala Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam yang bergaya daerah Banjar Kuala. Penarinya pria dan wanita berpasangan.
Japin Pasanggrahan Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dengan semua penarinya adalah wanita.
Japin Rantauan Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam.
 Japin Sisit Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam. Penarinya adalah wanita dengan mengenakan busana baju kurung sisit.
Kuda Gepang Tari prajurit berkuda (kavaleri), merupakan pengaruh budaya Jawa.
Ladon merupakan nama pasukan kerajaan Banjar. Tarian ini menggambarkam tari keprajuritan dan semua penarinya laki-laki. Tari ini sering dibawakan sebagai tari pembuka pada kesenian mamanda yaitu teater tradisonal Banjar, yang pertama kali berkembang dari daerah Margasari, Kabupaten Tapin.
Maayam Tikar Merupakan jenis tari khas dari Kabupaten Tapin yang menggambarkan remaja putri dari daerah Margasari, Kabupaten Tapin yang sedang menganyam tikar dan anyaman. Tari berdurasi sekitar 6 menit ini biasanya dibawakan oleh 10 orang penari putri. Tari ini diciptakan oleh Muhammad Yusuf, Ketua Sanggar Tari Buana Buluh Merindu, dari kota Rantau, ibukota Kabupaten Tapin.
Ning Tak Ning Gung Merupakan tari dolanan anak-anak yang menggambarkan anak-anak yang sedang bermain.
Paris Tangkawang Merupakan jenis tari berpasangan
Radap RahayuMerupakan tari semi klasik Banjar yang sering dalam menyambut tamu agung dan ditarikan dalam upacara perkawinan, para penarinya adalah wanita. Tari ini menceritakan tentang kapal prabayaksa yang kandas di muara Lokbaitan . Tari ini mengambarkan upacara puja Bantan(tapung tawar)Tujuan tari ini adalah sebagai ucapan rasa bersyukur dan doa agar kapal.
RudatKesenian yang bernafaskan Islam dengan dominasi gerakan tari dalam posisi duduk.
Sinoman Hadrah Kesenian yang bernafaskan Islam dengan dominasi gerakan tari dalam posisi berdiri.
Tantayungan Tarian ini mempresentasikan kisah dalam tokoh pewayangan. Sehingga tarian ini terkesan hidup lantaran diselingi dengan dialog kelompok penari. Tarian ini sendiri diiringi dengan musik karawitan melalui instrument babun, gong, sarunai, dan kurung-kurung. Paduan karawitan ini sangat harmoni dengan kelompok tari yang diperankan. Seni Tantayungan, awalnya kerap ditampilkan di sebuah desa, yakni Desa Ayuang, Barabai. Lalu dikembangkan di Kampung Mu’ui, Desa Pangambau Hulu, Kecamatan Haruyan oleh salah satu damang bernama Amat. Seni khas ini kemudian dikalim oleh pelaku seni HST, Sarbaini, di Desa Barikin sebagai seni khas Hulu Sungai Tengah.
TangguiTari yang menggambarkan para wanita yang memakai tanggui yaitu sejenis topi lebar).
Tameng Cakrawati Tari yang menggambarkan seorang isteri (Cakrawati) yang melanjutkan perjuangan suaminya melawan penjajah Belanda.
Tirik Lalan Merupakan jenis tari tradisional berpasangan (pergaulan) yaitu penari putera dan puteri yang bergaya tirik yaitu jenis tari yang berasal dari daerah Hulu Sungai.
Topeng Kelana Merupakan jenis tari topeng dengan tokoh Kelana, tari ini merupakan pengaruh budaya Jawa.
Topeng Wayang Merupakan jenis tari berpasangan.
Topeng Merupakan jenis tari klasik yang berasal dari Tapin yang biasanya dibawakan oleh tiga orang yang masing-masing memainkan sebuah karakter yaitu Gunung Sari, Patih dan Tumenggung dengan diiringi gamelan Banjar. Sebelum melakukan tarian topeng dilakukan suatu ritual dengan menyediakan sesajian terlebih dahulu yaitu sebiji telur ayam kampung, ketan, dan kopi pahit, yang diletakkan di dekat area pertunjukkan, maksudnya agar saat menari, roh dari topeng ini tidak mengganggu si penari. Tarian ini umumnya dilakukan oleh penari pria, kadang-kadang oleh penari wanita miauw.

Sumber : 
http://www.google.co.id/search?q=tari+gandut&hl=id&prmd=imvns&source=lnms&tbm=isch&ei=12XJT7nNEo7prQeBwYW4Dg&sa=X&oi=mode_link&ct=mode&cd=2&ved=0CEcQ_AUoAQ&biw=1024&bih=629

makalah tentang Telepon Seluler



BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Telepon seluler atau handphone (Hp) merupakan salah satu alat komonikasi jarak jauh. Telepon seluler juga bisa kita bawa kemana mana karna dengan bentuknya yang kecil dan ringan.
Telepon seluler atau handphone (Hp) sudah ada sejak jaman penjajahan yaitu kira kira tahun 1947 yaitu di Negara paman Syam alias Amerika Serikat dan Negara negara Eropa lainnya.
Telepon seluler saat ini sudah meraja lela di kalangan masyarakat khususnya di Indonesia. Tidak hanya orang orang dewasa, anak anak yang masih SD pun sudah memiliki handphone.
2.      Rumusan Masalah
Rumusan yang dapat kita ambil :
v  Negara manakah yang pertama kali menciptakan telepon seluler dan siapakah tokoh penemunya yang pertama!
v  Telepon seluler merek apakah yang pertama kali di perkenalkan!
v  Etika etika apa saja yang perlu di perhatikan dan di jaga bagi pengguna telepon seluler
BAB II
1.      Sejarah Telepon Seluler
Pada tahun 1910 adalah cikal bakal telepon seluler yang di temukan oleh Lars Maqnus Ericcson, yang merupakan pendiri perusahaan ericsson yang kini di kenal dengan perusahaan Sony Ericsson.
Pada tahun 1970-an perkembangan telepon seluler menjadi pesat dengan di dominasi  oleh 3 perusahaan besar yaitu: Perusahaan Nokia, Perusahaan Motorolla, Perusahaan Ericsson. 3 tahun kemudian Motorolla mengenalkan telepon genggam, ukurannya memang cukup besar dengan antena pendek.
Ada pula ponsel dengan ukuran skoper. Dr cooper yang menjadi manajer proyek inovasi Motorola itu memasang base station di New York. Untuk proyek ini Motorolla bekeja dengan Bell Lebs. Penemuan ini sekaligus di klaim sebagai penemu ponsel pertama.
Sistem Motorolla mempertunjukan cara berkomonikasi aneh dari terminal telepon portable. Dia mencoba ponsel raksasanya sambil berjalan-jalan di berbagai lokasi di New York. Itu lah saat pertama ponsel di tampilkan dan di gunakan di depan public. Degan berat 30 once sekitar (800 gram) atau 10 kali lipat di bandingkan rata- rata ponsel yang beredar  saat ini.

2.      Dampak Pengguna Telepon Seluler
Hadirnya tekhnologi komunikasi beupa telepon seluler yang semakin pesat dan maju tidak dapat kita hindari. Berbagai upaya dan cara yang kita lakukan untuk menolak hadirnya tekhnologi komonikasi tersebut malah justru akan semakin membuat kita pusing. Secara tidak langsung memang tekhnologi komonikasi membawa berbagai keuntungan bagi mereka penggunanya. Namun dibalik keuntungan yang menggiurkan tersebut ternyata terselib banyak kerugian yang menyebabkan dampak buruk bagi psikologis dan kesehatan pengguna tekhnologi komonikasi itu tersebut.
Secara nyata jelas terlihat bahwa tekhnologi komunikasi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi penggunanya terutama dalam hal berkomunikasi ( komunikasi tidak lagi rumit seperti dulu.
Ponsel yang  ringan dan tampak dapat di bawa di dalam saku jaket atau dompet. Kebebasan untuk mengirim dan menerima pangilan telepon dari mobil, restoran, suudut jalan bahkan ketika mendaki gunung , dalam waktu singkat di pandang sebagai kebutuhan mendasar dan dapat menghemat waktu yang memang besar artinya bagi para pedagang dan orang-orang yang merasa perlu untuk bisa menghubungi sewaktu-waktu. Telepon seluler menambah rasa nyaman dan aman.
Meski begitu masih sedikit sekali orang yang menyadari kerugian atau dampak negatip dari handphone dan mau berusaha untuk perlahan menanamkan cara atau kiat untuk mengurangi dampak yang dihasilkan dari pengguna telepon seluler.
Berdasarkan survey Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60% remaja usia 15- 19 tahun dan pancaremaja lebih senang mengirim dan membaca SMS dari pada membaca buku, majalah, atau Koran. Bahkan menurut data kompas ( 4 april 2003) yang melakukan steet poling yang di lakukan pada 100 remaja SMU di Jakarta, Bogor, Bandung dan Semarang menunjukan bahwa 51%  mereka mengirim SMS 11-20 kali, 35%  2-10 kali dan 14% lebih dari 20 kali sehari. Fenomena itu jelas menjadi salah satu potret dampak perkembangan komunikasi melalui HP. Bahkan sebesar 73% mereka  mengeluarkan biaya untuk voucher perbulannya sekitar 100-200 ribu, 9% antara 201-300 ribu dan 8% lebih dari 300 ribu perbulan. Ini artinya bahwa di samping menurunkan minat baca, HP juga  mengarahkan masyarakat untuk hidup konsumtif.
Di atas adalah dampak dari segi sosial budaya masyarakat. Lalu bagaimana dampak negatip  dilihat dari kejahatan psikologi seseorang maupun kesehatan?
Dari segi kejahatan , dampak nyata yang negatip dan banyak terjadi atas pengguna HP adalah bahwa ternyata komunikasi dengan HP dapat memunculkan praktik bisnis elegal dan ironisnya HP juga di jadikan ajang penipuan untuk mengeruk keuntungan dengan dalih menang dalam suatu undian di dunia maya. Penyalahgunaan fasilitas dari HP juga membawa dampak buruk bagi kaum remaja Indonesia. Melalui HP aksi pornografi semakin merajai benak kaum remaja Indonesia. Merekam aksi porno, mengambil atau dengan sengaja memotret gambar porno untuk kemudian du sebarkan ke HP lain adalah fenomena yang marak terjadi di kalangan remaja bahkan anak-anak.
Secara psikologis kerugian yang di akibatkan dari pengguna telepon seluler adalah manusia menjadi malas untuk bersosialisasi dengan teman dan lingkungan sekitar.
Dampak atas pengguna HP dari segi kesehatan juga tak kalah mengerikan. Berbagai penyakit serta kemungkinan terburuk hadir dalam tubuh manusia melengkapi kerugian atas pengguna HP atau telepon seluler.
3.      Etika-Etika Menggunakan Telepon Seluler
Beberapa etika yang perlu di perhatikan dan di jaga berkaitan dengan penggunaan telepon seluler, antara lain:
A.    Menyingkat pembicaraan,
B.     Tidak menyusahkan penerima telpon,
C.     Menjaga perasaan penerima telepon dan tidak membuatnya tersinggung,
D.    Mematikan ponsel atau mengaktifkan tanpa nada saat memasuki mesjid,
E.     Menghindari penggunaan nada dering lagu dan musik,
F.      Tidak menggunkan ponsel pada saat berada di majelis ilmu atau pada forom- forom besar secara umum,
G.    Jangan merekam pembicaraan atau mengaktifkan suara luar di tengah orang banyak tanpa sepengetahuan lawan bicara,
H.    Tidak meninggalkan ponsel sembarangan di tempat-tempat umum,
I.       Waspadai penggunaan kamera ponsel,
J.       Menjaga sopan santun dalam menulis pesan singkat,
K.    Meneliti kebenaran suatu pesan,
L.     Hindari pesan-pesan SMS yang tidak baik,
M.   Memastikan kebenaran nomor tujuan,
N.    Jagalah perasaan dan kondisi penerima,
O.    Jangan melihat isi ponsel orang lain dan membaca pesan-pesan di dalam tanpa izin pemiliknya,
P.       Tidak menggunakan ponsel untuk  berhubungan dengan lawan jenis,
Q.    Jangan sering bermain ponsel dalam forum,
R.     Berpura-pura dan senang di puji.
BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
*      Telepon seluler yang pertama kali di temukan oleh Lars Maqnus Ericsson dari Swedia pada tahun 1910, yang merupakan pendiri perusahaan Ericsson yang saat ini di kenal dengan perusahan Sony Ericsson.
*      Pada tahun 1970 an perkembangan telepon seluler menjadi pesat, dengan di dominasi oleh 3 perusahaan besar yaitu: Perusahan Nokia, Perusahaan Motorolla, Perusahaan Ericsson.
*      Telepon seluler yang pertama kali di pasarkan adalah merek Motorolla yang ukurannya besar dengan antena pendek.
*      Telepon seluler memberikan keuntungan yang sangat bagi penggunanya terutama dalam hal berkomunikasi.
*      Kerugian telepon seluler, yaitu:
i)        Dari segi sosial: menurunkan minat baca masyarakat bahkan kaum remaja yang masih sekolah, dan HP juga mengarahkan masyarakat tuk hindup konsumtif.
ii)      Dari segi kejahatan: ajang penipuan untuk mengeruk keuntungan, merekam aksi porno kemudian di sebarkan ke HP lain,
iii)    Dari segi psikologis: manusia menjadi malas untuk bersosialisasi dengan teman dan lingkungan sekitarnya.
iv)    Dari segi kesehatan: akan menimbulkan berbagai penyakit, seperti kemandulan dan kanker.
2.      Saran- saran
*      Jangan meletakan HP di saku celana karna bisa mengakibatkan kemandulan.
*      Jangan sampai kita malas karna HP.
*      Jangan menggunakan HP di tempat-tempat umum, karna bisa menimbulkan kejahatan.
*      Gunakan etika untuk menggunakan telepon seluler, agar kita tidak di mengganggu orang lain.
*       
DAFTAR PUSTAKA

-          Nurudin, Sis tem Komonikasi Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2005.
-          Fidler, Roger, Mediamorfosis: Understanding New Media,  Thousand Oaks. California: Pine Forge Perss, 1997